Fenomena Melambungnya Harga Ciplukan

Oleh Novita Dwi Dahliyanti
Dosen STIKES Telogorejo Semarang

Siapa yang menyangka, ciplukan yang dulu keberadaan tak bernilai sekarang menjadi  barang premium yang cukup tinggi diburu banyak orang untuk mendapatkanya.

Pada era tahun 90an, ciplukan ini masih banyak kita jumpai menjadi  mainan  anak-anak ataupun terkadang  menjadi cemilan mereka yang sedang asyik bermain di sawah, dipinggir jalan maupun di pelataran rumah, bahkan para petani masih banyak mengganggapnya sekedar hama.

Ciplukan merupakan tanaman semak liar yang terutama banyak dapat dijumpai di daerah dataran rendah dan agak lembab. Sekarang tak jarang kita dapat melihat ciplukan ini dipajang untuk dijual dimall, disupermakat maupun di pasar buah dengan harga yang fantastis, berkisar Rp 300 ribu-500 ribu per kilonya.

Ciplukan sebutan tanaman ini oleh jawa, cecendet oleh orang Sunda dan lelentokan oleh orang Minahasa. Ciplukan atau dalam bahas latin Physalis angulata L. buah asli Benua Amerika dan sekarang tersebar luas di negara-negara berilkim tropis, salah satunya Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu negara  tropis,sehingga memiliki dua musim saja yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Karakteristik iklim tropis inilah sehingga Indonesia memiliki hujan sepanjang tahun, yang artinya hujan dapat sewaktu-waktu turun di setiap tahunya walaupun pada musin kemarau sekalipun.

Selain memiliki iklim tropis, Indonesia juga terletak di garis khatulistiwa, sehinggan berdampak Indonesia mendapatkan suplai sinar matahari yang konstan. Dari hal tersebutlah di Indonesia dapat banyak dijumpai hutan rimba yang lebat dengan banyaknya tumbuh tanaman-tanaman.

Hasil penelitian amelilinda dkk (UGM) menyebutkan ciplukan disinyalir mengandung senyawa fisalin sebagai anti kanker yang mampu menghambat pertumbuhan sel kanker payudara. Hasil beberapa penelitian lain juga  menyebutkan kandungan ciplukan juga banyak mengandung senyawa seperti asam sitart, asam malat, asam askorbat, tannin, kriptoxantin, glukosa fisalin, lipid, mineral dan vitamin.

Senyawa-senyawa inilah yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan kita, antara lain untuk menurunkan kolesterol, menurunkan tekanan darah tinggi, sakit jantung, stroke menjaga kestabilan gula darah penderita diabetes dan bahkan dapat menambah kecerdasan pada anak. Masyarakat pedasaan di Negara Peru menggunakan daun ciplukan ini untuk penyakit hati, malaria dan hepatitis.

Sedangkan masyarakat di Amazon menggunakan jus ciplukan ini sebagai obat alami untuk penenang, meredakan sakit telinga maupun anti rematik. Bahkan masyarakat di Negara Afrika Barat mempercayai ciplukan dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit kanker. Merujuk pada tulisan Muhammad arief dihalaman mediskus.com, menyebut bahwa buah ciplukan dapat dikonsumsi langsung sebanyak 5-10 butir tiap harinya.

Sedangkan untuk daunnya dapat dibuat ramuan dengan cara merebus 15-20 lembar ke dalam 3 gelas air, rebus hingga tersisa 1 gelas air, kemudian saring dan dapat diminum sehari sekali. Setelah banyak orang mengetahui fakta manfaat ciplukan ini, sehingga menyebabkan  harga ciplukan yang dulu bisa dibilang tak bernilai, sekarang bernilai jual dan melambung.

Melambungnya nilai jual ciplukan ini selain banyaknya manfaat, juga disebabkan banyak diminati orang serta  sudah sangat jarangnya kita jumpai keberadaan tanamannya baik diperkotaan maupun dipedesaan. Ciplukanpun bisa dibilang susah dalam pembudidayaanya, sehingga para petani, lebih banyak mendapatkanya dari hasil tumbuh liar.

Apakah anda akan mencoba membudidayakan tanaman ini?

Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2018/09/13/fenomena-melambungnya-harga-ciplukan.