Author: STIKES Telogorejo

Gendong Ala Kanguru Ternyata Bisa Turunkan Demam Bayi, Begini Caranya

Oleh Sri Hartini MA
Dosen STIKES Telogorejo

BAYI anda demam? Setiap bayi pasti pernah mengalami demam. Bayi dikatakan demam jika suhu tubuhnya di atas 37,5 oC atau lebih.  Sebagai orang tua, dalam menghadapi demam pada anak kita tidak boleh panik. Tidak harus segera dibawa ke rumah sakit, sebab demam pada bayi merupakan keadaan normal selama tidak ada penyakit yang lain, karena demam ini biasa terjadi dan bisa anda tangani di rumah.

Demam timbul sebagai pertanda bahwa tubuh bayi sedang melawan penyakit. Bayi setelah memperoleh imunisasi terkadang mengalami demam, ini memberikan bukti bahwa sistem kekebalan tubuh bayi bekerja dengan baik.

Read More

Tips Tetap Sehat dan Bugar di Usia Lanjut


Oleh Suciwati
Dosen STIKES Telogorejo Semarang

Perubahan fisik pada masa lansia terlihat pada perubahan perubahan fisiologis yang bisa dikatakan mengalami kemunduran. Perubahan perubahan biologis yang dialami pada masa lansia tersebut sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan dan terhadap kondisi psikologisnya.

Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan pada dewasa muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang timbul akibat penyakit dan proses menua.

Read More

Sejuta Manfaat Memandikan Bayi Pakai Air Dingin

Oleh: Ns Siti Lestari, M.Kep Sp.Kep.An
Dosen STIKES Telogorejo Semarang

MEMANDIKAN bayi menggunakan air dingin masih menjadi perdebatan di antara para ibu. Ada yang berpendapat bahwa air dingin bagus untuk meningkatkan kekebalan tubuh karena bayi belajar beradaptasi terhadap suhu lingkungan. Ada juga yang pendapat sebaliknya.

Seringkali kita jumpai ibu-ibu memandikan bayinya menggunakan air hangat bahkan hingga usia  2 atau 3 tahun. Sebagian ibu percaya bahwa air hangat lebih baik untuk menjaga peredaran darah tetap lancar dan membersihkan kulit bayi lebih maksimal.

Read More

Mengenal Lebih Dekat Diabetes Melitus

Oleh: Sukesi
Dosen STIKES Telogorejo Semarang

WHO (World Health Organization) memperkirakan adanya peningkatan jumlah penderita diabetes melitus (DM) yang menjadi salah satu ancaman kesehatan global. Data International Diabetes Federation (IDF) Atlas pada 2015, mencatat bahwa ada 415 juta orang dewasa dengan DM. Angka ini merupakan kenaikan 4 kali lipat dari 108 juta pada tahun 1980an. Pada tahun 2040 diperkirakan jumlahnya akan menjadi 642 juta.

Di Indonesia, WHO memprediksi kenaikan jumlah penderita DM dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah penderita DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2035. DM merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7%, setelah stroke sebesar 21,1% dan penyakit jantung koroner sebesar 12,9% (Kementerian kesehatan, 2014). Ironisnya, satu dari dua orang dengan diabetes tidak tahu dirinya memiliki diabetes.

DM adalah kelompok penyakit metabolik dikarakterisasikan dengan tingginya tingkat glukosa didalam darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat defek sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya (American Diabetes Association (ADA), Expert Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes mellitus, 2003) dalam Tarwoto, et al., (2012, hlm. 151). Gejala awal DM ditunjukkan dengan adanya banyak makan (polifagia), banyak minum (polidipsia), dan banyak kencing (poliuria) atau disingkat 3P.

Jenis diabetes yang paling sering terjadi adalah DM Tipe II, mencakup 85% pasien diabetes. Pada DM Tipe II terdapat dua masalah yang berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor keturunan, faktor kegemukan (obesitas)  dan faktor demografi.

Obesitas merupakan faktor utama penyebab timbulnya DM Tipe II (LeMone, et al., 2016). Obesitas terjadi akibat perubahan gaya hidup dari tradisional ke gaya hidup barat, makan berlebihan, hidup santai, dan kurang gerak badan. Kategori obesitas yaitu indeks massa tubuh (IMT) 25,0-29,9. Pada obesitas, khususnya obesitas visceral (lemak abdomen) dikaitkan dengan resistensi insulin.

DM Tipe II merupakan penyakit menahun yang akan disandang seumur hidup. Oleh karena itu perlu pencegahan dan pengelolaan DM Tipe II menurut PERKENI, (2015). Pencegahan DM Tipe II meliputi pencegahan primer, sekunder, dan tersier.

Pencegahan primer ditujukan untuk kelompok beresiko yang dapat dilakukan dengan penyuluhan tentang pola hidup sehat melalui program penurunan berat badan untuk mencapai berat badan ideal, latihan jasmani, dan hentikan kebiasaan merokok maupun intervensi farmakologis.

Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah terdiagnosis DM. Pencegahan sekunder meliputi pengendalian kadar glukosa dan faktor resiko penyulit, melakukan deteksi dini adanya penyulit dan program penyuluhan yang memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani program pengobatan sehingga mencapai target terapi yang diharapkan.

Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penderita diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut serta meningkatkan kualitas hidup. Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum kecacatan menetap. Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan pada pasien dan keluarga. Materi penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan komprehensif dan terintegrasi antar disiplin yang terkait, terutama di rumah sakit rujukan.

Pengelolaan DM Tipe II bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes, meliputi menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, mengurangi resiko komplikasi akut, mencegah dan menghambat progresivitas penyulit dan turunnya morbiditas dan mortalitas DM. Penyakit serebrovaskular, penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah tungkai, gangguan pada mata, ginjal dan syaraf merupakan penyulit menahun akibat penyakit DM yang tidak dikelola dengan baik.

Pengelolaan DM Tipe II meliputi umum dan khusus. Pengelolaan umum: perlu dilakukan evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan pertama, yang meliputi: riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, riwayat komplikasi.

Pengelolaan khusus meliputi: edukasi, terapi nutrisi medis (penderita DM perlu diberikan penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin), latihan jasmani (secara teratur 3-5 hari seminggu selama sekitar 30-45 menit, dengan total 150 menit perminggu, dengan jeda antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut, latihan jasmani yang dianjurkan yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang seperti jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan berenang), dan  intervensi farmakologis (oral dan bentuk suntikan).

PERKENI secara terus menerus memberikan informasi baru tentang pencegahan dan pengelolaan DM di Indonesia sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi terkini. Namun, data-data yang ditunjukkan oleh WHO, IDF, maupun Riskedas memperlihatkan  bukti bahwa jumlah penderita DM di Indonesia masih sangat besar. Dan adanya perkiraan terjadi peningkatan jumlah penyandang DM di masa yang akan datang menjadi beban berat sekaligus tantangan bagi semua tenaga kesehatan yang ada. Oleh karena itu perlu peran yang optimal dari semua pihak, baik tenaga kesehatan, masyarakat maupun pemerintah, dalam usaha penanggulangan DM khususnya dalam upaya pencegahan.

Marilah kita kenali lebih dekat DM yang merupakan penyakit menahun seumur hidup agar dapat meningkatkan kualitas hidup bagi penyandang DM. (*)
Sumber: http://jateng.tribunnews.com/2018/11/23/mengenal-lebih-dekat-diabetes-melitus?page=2

Pentingnya Pijat Perineum bagi Ibu Hamil, Jangan Berpikir Negatif Dulu

Oleh Nella Vallen Ika Puspita
Dosen STIKES Telogorejo Semarang

JANGAN suka ngeres apabila mendengar kata pijat, apalagi di daerah perineum. Pada proses persalinan, organ reproduksi wanita khususnya perineum akan mengalami peregangan. Proses peregangan inilah yang tak lepas dari terjadinya robekan atau disebut ruptur perineum. Perineum dapat robek ketika melahirkan atau secara sengaja digunting guna melebarkan jalan keluar bayi atau episiotomi.

Sebanyak 85% wanita melahirkan pervaginam dapat mengalami ruptur perineum. Salah satu ketakutan yang sering dirasakan oleh ibu hamil terutama trimester III adalah takut robek dan dijahit. Terutama pada ibu yang pernah mengalaminya, hal ini bisa menjadikan trauma baginya saat menghadapi proses persalinan. Juga bekas dari robekan perineum ini dapat berpengaruh pada rasa sakit saat berhubungan (dispereunia) dengan pasangan.

Read More

Perhatikan Masalah Perkembangan Motorik Kasar pada Infant atau Bayi

Oleh Suci Amalia Firdaus

SETIAP orang tua mengharapkan anaknya tumbuh dan berkembang secara optimal. Tidak ada waktu yang sama dalam kehidupan dimana terjadi perubahan fisik dan pencapaian perkembangan yang pesat seperti masa bayi. Semua sistem tubuh mengalami pematangan progresif. Perkembangan keterampilan serentak memungkinkan bayi untuk semakin merespons lingkungan.

Infant adalah sinonim yang lebih khusus untuk “bayi” yaitu periode dari usia 1 bulan hingga kurang lebih usia 2 tahun (Ruffin, 2009). Pada usia ini merupakan periode keemasan (golden period) untuk optimalisasi tumbuh kembang dan merupakan masa yang tepat untuk mempersiapkan seorang anak menjadi dewasa yang berkualitas dikemudian hari.

Read More