Author: STIKES Telogorejo

Pelatihan PEKERTI

Dalam rangka meningkatkan profesionalisme dosen, STIKES Telogorejo menyelenggarakan Pelatihan PEKERTI pada :

Tanggal : 11 – 15 Maret 2019
Tempat : R Auditorium Lantai 4 STIKES Telogorejo

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dosen dalam pelaksanaan proses pembelajaran

Cegah Diabetes Melitus Dengan Perilaku Hidup Sehat

Oleh Ns. Ismonah, M.Kep, Sp. MB
Dosen STIKES Telogorejo Semarang

Penyakit Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang menyebabkan kematian terbesar di dunia. Data terbaru WHO bahwa Indonesia menduduki peringkat keempat terbesar dalam jumlah penyandang DM di dunia, setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Gaya dan pola hidup yang tidak sehat saat ini menjadi faktor risiko utama meningkatnya angka kejadian DM.

Langkah utama pencegahan dan pengendalian DM, saat ini masih difokuskan pada pemahaman dan pencegahan faktor risiko DM.

Pemahaman terkait faktor risiko DM sangat dibutuhkan sebagai upaya promotif dan preventif, karena masih banyak yang menganggap bahwa riwayat keluarga dengan DM menjadi faktor yang pasti menentukan seseorang mengalami DM.

Faktor risiko terpenting yang dapat dimodifikasi untuk mengurangi risiko DM, adalah berkaitan dengan gaya dan pola hidup.

Gaya hidup tidak sehat yang dimaksud adalah jarang beraktivitas atau olah raga secara rutin, kebiasaan merokok, mengonsumsi makanan yang berlebihan dan obesitas.

Himbauan  dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam pencegahan DM adalah membentuk upaya-upaya pengendalian DM.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menghimbau untuk selalu melakukan aksi CERDIK, yaitu; Cek kesehatan secara teratur untuk mengontrol berat badan, Enyahkan asap rokok dan jangan merokok, Rajin melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga, Diet yang seimbang dan menekan konsumsi sumber karbohidrat (gula), Istirahat yang cukup, serta Kendalikan stres dengan baik.

Tentunya upaya ini tidak luput dari kesadaran kita semua untuk bisa menerapkan gaya hidup sehat agar dapat menurunkan risiko Diabetes Melitus.

Selain itu pengendalian DM juga dilaksanakan secara terintegrasi dalam program pengendalian penyakit tidak menular, dengan penerapan program PATUH, yaitu PERIKSA kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter, ATASI penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur, TETAP diet sehat dengan gizi seimbang, UPAYAKAN beraktivitas fisik secara aman, HINDARI rokok, alkohol, dan zat karsinogenik lainnya.

Sedangkan bagi penyandang DM, beberapa tindakan yang bisa dilakukan guna mencegah terjadinya komplikasi DM, adalah dengan melaksanakan pilar penatalaksnaaan DM, meliputi  pengontrolan kadar gula darah secara teratur dengan mengecek gula darah secara periodik, melakukan pengaturan pola makan dengan tepat dan memperhatikan diet yang dianjurkan; melakukan olah raga secara rutin dengan jenis dan ritme serta durasi yang teratur; minum obat yang dianjurkan secara teratur; melakukan pengontrolan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala; pengelolaan stres dengan baik; memperhatikan pola tidur dan istirahat, serta pembatasan aktivitas fisik yang berlebihan. Dengan pengendalian yang baik, menjaga kadar gula darah berada dalam kategori normal, maka komplikasi akibat DM dapat dicegah.

Mari berperilaku hidup sehat, agar terhindar dari penyakit DM, dan bagi yang sudah menderita DM untuk tetap melakukan perawatan dan pengelolaan dengan baik agar tercegah dari berbagai komplikasi, sehingga tetap mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik dan senantiasa produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup.(*)



Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2019/03/08/cegah-diabetes-melitus-dengan-perilaku-hidup-sehat.

Pelatihan Pekerti Dosen STIKES Telogorejo

Dalam rangka meningkatkan profesionalisme dosen, STIKES Telogorejo menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) bagi para dosen pada tanggal 11 sampai dengan 15 Maret 2019. Pelatihan yang dilaksanakan di auditorium lantai IV STIKES Telogorejo  ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dosen dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

STIKES Telogorejo dalam penyelenggaraan pelatihan PEKERTI ini bekerjasama dengan Lembaga Peningkatan Penjaminan Mutu Pendidikan Universitas Diponegoro sebagai fasilitator. Pelatihan PEKERTI ini diikuti oleh para dosen STIKES Telogorejo dan juga para dosen Universitas Nasional Karangturi. Kegiatan pelatihan dibuka oleh dr. Swanny Trikajanti W.,M.Kes.,Ph.D selaku Ketua STIKES. Dalam sambutannya Ketua STIKES menyampaikan harapan setelah dilaksanakannya pelatihan ini para dosen akan dapat melaksanakan proses pembelajaran secara lebih professional.  Acara pembukaan dihadiri pula oleh Dr. Ir. Setia Budi Sasongko, DEA selaku Sekretaris LP2MP Universitas Diponegoro, dr. Murti Wandrati, M.Kes selaku Rektor Universitas Nasional Karangturi, Manajemen STIKES Telogorejo dan segenap peserta.

Ditulis Oleh : Dra. Tunik Saptawati, M. Si Med., Apt

Lowongan Pekerjaan St. Carolus

Kenali Delirium: Penyebab, Dampak, dan Pencegahannya

Oleh Arlies Zenitha Victoria
Dosen STIKES Telogorejo Semarang

Delirium. Tidak banyak orang mengenal istilah tersebut, namun kondisi ini sangat rentan terjadi pada setiap pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit.

Delirium merupakan kondisi yang cukup umum ditemui, khususnya pada penderita usia lanjut yang dirawat di rumah sakit.

Delirium adalah keadaan yang yang bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih.Prevalensi kejadian delirium saat ini berada di kisaran 23% untuk pasien rawat inap.

Faktor resiko penyebab delirium pada pasien rawat inap digolongkan dalam 2 jenis, yaitu faktor pendukung dan faktor pencetus

Faktor pendukung yang menyebabkan delirium biasanya disebabkan karena adanya gangguan otak organik, seperti demensia (pikun), stroke, penyakit parkinson, usia lanjut, gangguan sensorik, dan gangguan multipel.

Sementara itu, faktor pencetus delirium yang sering ditemui antara lain penggunaan obat lebih, infeksi, kurang cairan, keterbatasann gerak atau aktivitas, malnutrisi, dan pemakaian selang urine.

Delirium dapat diawali dengan berbagai gejala, dan kasus yang ringan mungkin sulit untuk dikenali.

Tingkah laku seseorang yang mengalami delirium bervariasi, tetapi kira-kira sama seperti orang yang sedang mengalami mabuk berat.

Ciri utama dari delirium adalah tidak mampu memusatkan perhatian, penderita tidak dapat berkonsentrasi, sehingga mereka memiliki kesulitan dalam mengolah informasi yang baru dan tidak dapat mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.

Hampir semua penderita mengalami disorientasi waktu dan bingung dengan tempat dimana mereka berada.

Fikiran mereka kacau, mengigau dan terjadi inkoherensia. Pada kasus yang berat, penderita tidak mengetahui diri mereka sendiri.

Beberapa penderita mengalami paranoia dan delusi (percaya bahwa sedang terjadi hal-hal yang aneh).

Sindrom delirium mempunyai dampak buruk, diantaranya adalah pemanjangan masa perawatan di RS, hingga beresiko kematian.

Hampir setengah pasien delirium keluar dari kondisi rawatan akut rumah sakit dengan gejala persisten dan 20-40% diantaranya masih mengalami delirium hingga 12 bulan keluar dari rumah sakit.

Pencegahan delirium dapat dilakukan dengan menghindari berbagai faktor risiko yang meningkatkan risiko delirium.

Orang berusia lanjut (di atas 60 tahun) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami delirium.Hindari penggunaan obat yang meningkatkan risiko deliritum, seperti ranitidin, digoksin, ciprofloxacin, kodein, amitriptilin (antidepresan), benzodiazepine.

Selain itu, beberapa latihan dapat dilakukan untuk menghindari delirium, seperti latihan rentang gerak, stimulasi pengihatan & pendengaran, latih kemampuan kognitif, dan selalu orientasikan pasien atau keluarga yang sakit terhadap orang, tempat, dan waktu. (*)

Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2019/01/31/kenali-delirium-penyebab-dampak-dan-pencegahannya?page=2.

Lowongan Pekerjaan RS. Keluarga Sehat

Bagi yang berminat dapat mengisi form berikut :

Penerimaan Mahasiswa Baru Tahap IV STIKES Telogorejo Semarang Tahun Akademik 2019/2020

Penerimaan Mahasiswa Baru Tahap IV STIKES Telogorejo Semarang tahun akademik 2019/2020 telah dibuka.
Jalur PMDP / Jalur Raport
Penutupan Pendaftaran dan Penyerahan Raport Jalur PMDP Tahap IV pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 28 Maret 2019 
Jam : 12.00 WIB 

Pengumuman Lolos Jalur PMDP / jalur Raport Tahap IV pada :
Hari : Kamis 
Tanggal : 28 Maret 2019 
Jam : 14.00 WIB 

Pengumuman Lolos Jalur PMDP lewat website PMB. Bagi yang dinyatakan Lolos Jalur PMDP/Jalur Raport, Test Kesehatan dan Wawancara dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 31 maret 2019 dimulai pukul 08.00 WIB. 

Jalur Reguler
Penutupan Pendaftaran Jalur Reguler Tahap IV pada :
Hari : Jumat
Tanggal : 29 Maret 2019 
Jam : 14.00 WIB 

Pelaksanaan Ujian Tulis, Test Kesehatan dan Wawancara Jalur Reguler Tahap IV pada hari Minggu tanggal 28 Maret 2019 mulai pukul 08.00 WIB.

* Pendaftaran PMB setelah tanggal penutupan sampai dengan pelaksanaan seleksi bersama tetap dilayani dan langsung dilaksanakan seleksi pada saat itu juga (one day service) 


Panitia PMB 2019
STIKES Telogorejo Semarang
Catatan :
– Bagi Sekolah-sekolah yang melakukan kerjasama dengan STIKES Telogorejo jadwal diatur sesuai kesepakatan antara STIKES Telogorejo dengan Guru BK Sekolah. 

Pengaruh Tumbuh Kembang Terhadap Kasus LGBT

Oleh Ni Made Ayu Wulan Sari
Dosen STIKES Telogorejo Semarang

LGBT (Lesbian, gay, bisexual dan transgender) merupakan fenomena yang terjadi di Indonesia pada saat ini. Hal tersebut tidak hanya berdampak secara fisik tetapi juga secara psikis/ mental, baik bagi individu yang mengalaminya maupun bagi anggota keluarga maupun masyarakat disekitarnya.

LGBT dianggap sebagai penyimpangan sosial yang akan berdampak buruk bagi penerus bangsa. Negara Amerika Serikat telah melegalkan LGBT dengan mengijinkan pernikahan sesama jenis. Pelegalan tersebut menimbulkan kontroversi baik secara hukum maupun agama (Suherry, dkk., 2016).

Era globalisasi menyebabkan kehidupan dan dinamika kehidupan masyarakat modern mengalami perubahan yang berdampak positif maupun negatif. Fenomena LGBT juga terjadi di Indonesia.

Awal mula LGBT menurut laporan pertemuan LGBT di Bali 13-14 Juni tahun 2013 dengan judul Hidup Sebagai LGBT di Asia: Laporan Nasional Indonesia; Tinjauan dan Analisa Partisipatif tentang Lingkungan Hukum dan Sosial bagi orang dan Masyarakat Madani Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) menjelaskan pada akhir tahun 1960-an dengan didirikan Himpunan Wadam Djakarta (Hiward) oleh Gubernur DKI Jakarta, Jenderal Marinir Ali Sadikin. Pada tahun 1982 kalangan pria homoseksual merintis usaha pengorganisasian dengan mendirikan Lambda Indonesia (Oetomo, 2013). 

Fenomena LGBT di Indonesia diatas, menimbulkan pertanyaan mengenai pengelompokan LGBT. LGBT berdasarkan kelompoknya yaitu, kelompok pertama, lesbian yang dapat diartikan sebagai golongan indvidu yang dilahirkan secara biologis sebagai wanita, namun tertarik kepada wanita yang lain dari segi kecenderungan perasaannya maupun keinginan seksualnya.

Kelompok dua, gay adalah golongan yang dilahirkan secara biologis sebagai laki-laki, namun tertarik kepada sesame laki-laki yang lain. Bbaik dari segi kecenderungan perasaannya maupun keinginan seksualnya. 

Kelompok ketiga, biseksual adalah seseorang yang mempunyai kecenderungan untuk tertarik kepada laki-laki maupun perempuan pada saat bersamaan. Sehingga kaum biseksual dapat menjalankan aktivitas seksual dengan dua orang yang berlainan kelamin tanpa merasa risih dan terganggu dengan indentitasnya.

Kelompok empat, transgender berbeda dengan golongan gay, lesbian dan biseksual. Golongan transgender tidak berorientasi pada dominasi kecenderungan perasaan maupun seksual pada sesama jenis, melainkan lebih kepada aspek identitas diri (Nugraha, 2017).

LGBT dapat terjadi apabila memahami tumbuh kembang manusia yang dipengaruhi oleh seksualitas, hal ini karena seksualitas merupakan dorongan utama dalam kehidupan manusia (Noviandy, 2012). Tetapi fenomena LGBT tidak sepenuhnya terjadi karna gangguan pada tumbuh kembang seksualitas.

Hal ini karena LGBT dipengaruhi faktor-faktor lain yaitu faktor prinsip hidup, faktor lingkungan, faktor kebebasan seksual, faktor genetik, faktor hormon dan faktor ketidakpuasan seks dengan pasangan, sehingga LGBT bukan suatu kelaian merupakan aktivitas manusia secara psikologis bersifat wajar.

Hal tersebut didukung Drescher (2015), awalnya homoseksual dianggap bukanlah sesuatu gangguan penyakit pada kesehatan jiwa. Hal ini didasari oleh pernyataan Freud yang menyatakan bahwa perilaku homoseksual disebabkan oleh  adanya sesuatu yang terperangkap pada saat tahap perkembangan psikoseksual (tumbuh kembang seksualitas). Orang yang mengalami homoseksual tidak mengalami penurunan pada fisik sehingga tidak diklasifikasikan pada penyakit.

Tetapi pada tahun 1939, generasi psikoanalisis melihat homoseksual sebagai suatu penyakit. Pandangan ini berdasarkan teori Sandor Rado. Rado menyatakan bahwa didunia ini tidak ada biseksual dan homoseksual tetapi yang ada adalah heteroseksual. Seseorang dapat menjadi homoseksual dikarenakan ketidakadekuatan pola asuh orang tua.

Hal ini juga dijelaskan Bennett dan Douglas (2013) menjelaskan terjadinya LGBT. Menurutnya, LGBT terjadi karena adanya gangguan pada tahap adolescence yaitu saat identity versus role confusion. Pada tahap ini seseorang mengembangkan kesadaran identitasnya secara individu dan anggota dari kelompok masyarakat. seseorang akan menyadari bahwa dia LGBT pada tahap ini.

Pembentukan seseorang menjadi LGBT terjadi pada tahap initiative versus guilt saat umur 3-6 tahun. Pada tahap ini tugasnya adalah mengembangkan ketegasan interaksi dengan seseorang di lingkungan. Dampak tugas perkembangan yang tidak terlaksana low esteem, kesalahan perilaku seksual atau penegasan identitas LGBT.

LGBT di Indonesia menurut Saleh dan Arif, (2018), semua agama memandang bahwa LGBT adalah perilaku seksual yang menyimpang dan tidak dapat diterima seluruh agama yang ada khususnya Indonesia. Hal tersebut menyebabkan munculnya dampak sosial yang negatif di masyarakat yaitu munculnya berbagai penyakit kelamin maupun psikis/mental.

Menurut Russell dan Patrick (2018), terdapat 2 faktor yang dapat memperparah terjadinya masalah mental pada LGBT terutama remaja. Pertama faktor universal seperti konflik keluarga, penganiayaan, penggunaan narkoba dan pelecehan sexual. Kedua adalah faktor spesifik seperti stigma, diskriminasi, serta stres sehari-hari.

LGBT dapat terjadi, salah satu penyebabnya adalah masalah yang menghambat pada saat tumbuh kembang sehingga pentingnya orang tua untuk memaham ibagaimana cara mendidik anak secara dini. Selain itu, pentingnya memilih lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang anak.(*)

Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2019/02/01/pengaruh-tumbuh-kembang-terhadap-kasus-lgbt?page=all.

Tinjauan Kurikulum Prodi S1 Ilmu Keperawatan dan D3 Keperawatan

Kurikulum merupakan suatu hal yg sangat penting bagi keberlangsungan proses pendidikan di suatu perguruan tinggi demi mencetak lulusan sesuai dengan profil yang diharapkan. Keberhasilan perguruan tinggi nampak dari adanya kepuasan pengguna lulusan. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengguna lulusan secara terus menerus akan menyesuaikan dengan kebutuhan di masyarakat. Oleh karena itu diperlukan suatu telaah terus menerus terhadap kurikulum yang dijalankan.

Senin, 18 Februari 2019 STIKES Telogorejo khususnya prodi S1 Ilmu Keperawatan dan D3 Keperawatan mengundang para stakeholder (pengguna lulusan) untuk dapat memberikan evaluasi, masukan, saran maupun kritik terhadap kurikulum yang sudah dijalankan. Dalam acara tersebut, dihadiri oleh perwakilan dari AIPNI, DPD PPNI, pihak RS tempat mahasiswa praktik, dosen tamu, pembimbing klinik, serta mahasiswa. Banyak sekali masukan serta evaluasi yang dapat digunakan kedua prodi untuk mengembangkan kurikulum yg saat ini digunakan. Harapan ke depannya dengan adanya kegiatan ini secara berkala, STIKES Telogorejo akan makin berkembang dan dapat mencetak tenaga kesehatan yang handal di bidangnya.

Tinjauan Kurikulum

Tinjauan Kurikulum Progam Studi S1 Ilmu Keperawataan dan D3 Keperawatan akan dilaksanakan pada :
Hari : Senin
Tanggal : 18 Februari 2019
Tempat : R. Auditorium STIKES Telogorejo Semarang