sekretariat@stikestelogorejo.ac.id (024) 76632823 +62 858-7599-4522

Oleh : Ns. Siti Juwariyah, M.Kep – Dosen D-3 Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang

Demensia pada lansia biasa disebut pikun. Namun itu berbeda, pikun merupakan perubahan kemampuan berpikir dan mengingat yang biasa dialami seiring pertambahan usia, yang menyebabkan sesorang bergantung pada orang lain. Sedangkan demensia adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir juga akan berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktifitas sehari-hari penderitanya. Sehingga sering mengakibatkan penderita sangat bergantung pada orang lain.

Apakah Damenisa termasuk Penyakit ?

Demensia bukan penyakit, namun merupakan sindrom atau kumpulan gejala-gejala yang terjadi pada seseorang. Sindrom ini mempengaruhi daya ingat, proses berpikir dan kemampuan yang dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Demensia umumnya terjadi pada kelompok lansia. Sindrom ini bukan proses penuaan yang normal terjadi. Kondisi ini umumnya penyebab disabilitas dan ketergantungan pada orang lain bagi lansia di seluruh dunia.

Faktor yang berisiko demensia adalah pertambahan usia, adanya riwayat demensia dalam keluarga, pola makan tidak sehat, merokok, jarang olahraga, kecanduan alkohol dan bisa juga karena penyakit tertentu misalnya sindrom down, depresi, sleppapnea, kolesterol tinggi, obesitas, hipertensi dan diabetes.

Gejala umum demensia pada lansia ada beberapa,

  1. Gangguan Daya Ingat

Kondisi ini sering disebut dengan pikun. Hal ini membuat lansia sulit mengingat sejumlah hal seperti nama orang atau benda.

  • Sering Mengalami Kebingungan

Sering mengalami kebingungan, atau disebut sebagai disorientasi. Kebingungan akan semakin bertambah seiring dengan penyakit yang bertambah parah, yang sering disebut juga dengan penyakit Alzheimer.

  • Mengalami Kesulitan Berpikir

Mereka tidak bisa melakukan sejumlah aktivitas secara mandiri, seperti Menyusun rencana, mengatur keuangan, dan sebagainya. 

  • Kesulitan Untuk Focus

Hilangnya focus akan menyulitkan mereka untuk melakukan kegiatan sehari-hari bahkan termasuk yang sederhana.

  • Mengalami Delusi Dan Halusinasi,

Lansia yang mengalami ini adalah yang sudah Alzheimer tahap lanjut, dalam kondisi ini lansia perlu di damping dalam melakukan kegiatan sehari-hari karena sering dapat membahaayakan dirinya sendiri.

  • Perilaku dan kepribadian berubah

Muncul tanda-tanda lansia mudah cemas, lansia mudah curiga, suasana hati sering berubah-ubah, agresif. Hal ini menyebabkan stress dan depresi pada lansia dan perlu adanya dukungan dari keluarga untuk mengurangi gejala ini.

  • Sulit memahami objek visual, lansia sulit membaca, memahami gambar, dan objek-objek lain yang dilihatnya.

Pencegahan penyakit demensia adalah menghindari semua penyebab dan factor risiko yang akan terjadi, walaupun belum ada acara pasti untuk mencegah penyakit  demensia pada lansia. Beberapa cara untuk mengurangi risikonya seperti :

  • Berhenti merokok,
  • Berolahraga secra teratur,
  • Tidur yang cukup,
  • Kurangi asupan alkohol,
  • Menjaga berat badan ideal,
  • Rutin mengontrol tekanan darah, kadar gula darah dan kolesterol
  • Melatih otak secara berkala (seperti rajin membaca atau bermain teka-teki silang),
  • Segera konsultasi kedokter jika mengalami stress, depresi atau gangguan kecemasan,
  • Menjaga asupan nutrisi dan menerapkan pola makan sehat (dengan mengonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat),
  • Konsumsi vitamin otak.

Mari kita sayangi lansia dan jadikan lansia yang produktif sesuai kemampuannya.  Salam Sehat

Related Posts

Leave a Reply

Arsip Informasi